Showing posts with label KONTEMPLASI. Show all posts
Showing posts with label KONTEMPLASI. Show all posts

Ketika Malam Meratap

Saturday, February 12, 2011

Suatu saat ia berbisik, "Aku benci pagi. Karena aku adalah malam". Ia berdiri sesaat, lalu terus berkicau, "Aku tak lelah menjejalkan rasa ingin tahu, marah, takut. Agar ia mau sejenak saja, menemani waktuku".

"Aku sudah belajar untuk tak peduli. Membiarkan kematian, darah, dan airmata"

"Aku juga berteriak lantang di gerbang pergantian waktu. Tapi ia, pagi, datang diam dan tak mau ragu. Ia adalah definisi mutlak keangkuhan. Ia yang cantik, hangat, dan selalu belia"

"Aku menggugat tatanan ini. Aku, malam, ingin bersanding dengan pagi. Aku malam yang tak pernah ingkar. Aku malam yang gelap dan memberi ruang panjang tanpa batas"

Ia, malam, lalu duduk meratap. Pagi tiba. Dan ia, malam, perlahan memudar. Benar-benar tanpa air mata.

Surabaya, 12 Febr 2011

read more>>>

Balada Negeri Serigala

Maaf, negeri kami tak lagi butuh tamu kehormatan dari manapun. Negeri kami telah jadi lautan sampah. Ia jadi titik terbenamnya matahari dan peradaban sekaligus.

Negeri kami telah letih dengan kenyataan tak manusiawi, kebobrokan sistem, manusia-manusia penjilat, dan pembunuh keji bertampang dewa kebajikan.

Maaf, kami meminta Anda untuk kembali pulang. Biarlah kami melolong bersama waktu yang sulit untuk abadi. Kami sedang berpacu untuk jadi bijak dan pintar, agar mampu mengimbangi harga barang kebutuhan yang terus melambung.

Kami masih seperti nenek moyang kami yang cinta damai. Tapi kami juga masih seperti para pendiri negara yang lebih cinta kemerdekaan.

Jadi, pulanglah kalian. Kembalilah saat tak ada lagi para serigala. Mungkin ini pilihan yang tak menyenangkan. Tapi kami mesti berhati-hati. Agar kami tak gagal dalam berjuang, agar tak menjadi bagian dari mereka.

Maaf, beribu maaf...

Surabaya, 21 Januari 2010
*untuk mereka yg terpaksa lahir di masa yang salah....

read more>>>

Malam itu Gerimis Datang Perlahan

Sunday, January 09, 2011

Kopi Cak Minto ini sebenarnya biasa saja. Warnanya hitam, kelam, berasa layaknya kopi. Tersaji panas dengan cangkir dan lepek. “Saya mau saja jualan kopi yang warnanya oranye. Tapi nanti banyak yang protes. Kopi kok kayak wedang jeruk,” kata Cak Minto suatu saat.

Tapi tidak tau mengapa, Yanus sangat suka kopi Cak Minto. Pada istrinya ia pernah berkata, “Sehari ndak minum kopi Cak Minto rasanya ada yang kurang. Seperti lautan tanpa garam. Seperti langit tak berwarna biru. Hambar. Tanpa harapan”.


“Sampeyan iku lebay,” kata istri Yanus.
“Walah. Lebay itu apa? Bahasamu kok aneh-aneh se?”

Tentu Yanus tak sungguh-sungguh ingin menggugat atau marah pada istrinya. Dialog kecil saja. Biar tambah mesra.

Dan malam itu, Yanus sudah nongkrong di warung Cak Minto. Dalam hatinya, ada sesuatu yang ingin ia rayakan. Pagi tadi ia baru saja menuntaskan pajak ini-itu. Pajak ini-itu tidak ada di hukum perpajakan. Sebutannya bermacam-macam. Hanya saja, Yanus enggan menghapal satu persatu. Terlalu complicated.

Lagi pula, sebagai warga yang tidak ikut bertempur di jaman merebut kemerdekaan, Yanus paham diri. Jika mereka ertempur dengan bambu runcing dan golok, kini saatnya berjuang dengan membayar pajak. Turut terlibat membangun negara.

Bagi sebagian besar orang, pajak hanya obyek yang layak dicibir. Hampir sama dengan aksi Julia Perez yang nekad mau melenggang jadi bupati. Tapi bagi Yanus, pajak adalah keharusan. Rakyat butuh jaminan sebuah kesetaraan. Dengan membayar pajak, rakyat punya alasan untuk berteriak lantang jika ada parat negara ngising sembarangan. Maksudnya, melakukan hal menjijikkan dan memalukan di tempat yang tidak semestinya.

Walau suatu saat juga, Yanus pernah bertanya pada teman satu SMP-nya yang kini jadi dosen terbang di sebuah perguruan tinggi biasa saja. “Negara kita kan kaya raya. Mengapa pemerintah masih perlu bayar pajak untuk membantu lancarnya proses pembangunan?” tanya Yanus.

Kata kawannya yang dosen itu, “Pajak kan fresh money. Kalau kayu jati dan minyak bumi kan butuh proses agar jadi fresh money”.

“Tapi minyak bumi dan kayu jati nantinya kan jadi fresh money juga?”
“Anggap saja begini kang. Dalam proses menjadi fresh money itu, ada proses yang panjang dan berbelit. Puanjaaaaang, berbelok-belok, ada jalan yang sempit, ada jalan yang lebar. Kadang ada tanjakan curam, kadang landai. Kadang berkabut, kadang gelap gulita. Nah paham?”

“Enggak,” kata Yanus sambil garuk-garuk. Tapi Yanus diam dan menyerah. “Intinya, pajak memang keharusan?” tanyanya pada si dosen yang kalau di lihat dari samping mirip Dono Warkop ini.

“Iya, wajib”.
“Berarti sampeyan juga bayar pajak?”
“Nah, disitu masalahnya. Saya ndak punya NPWP. Nek sampean kan punya. Jadi saya wajib bayar pajak tapi gak wajib bayar pajak. Dan itu berbeda sama sekali”

Yanus lagi-lagi diam dan menyerah. “Jika ada yang bilang kalau hidup ini kadang sarat dengan hal tidak penting, maka dialog dengan dosen semprul ini salah satnya,” kenang Yanus sambil menyruput kopinya. Biarlah, tiap orang punya persepsi sendiri. Bukankah berpersepsi adalah indikasi bahwa dia masih punya kemerdekaan?

“Lagi seneng ta Kang?” tanya Cak Minto sambil menata pisang goreng hangat, mendekat ke arah Yanus. Jiangkrik. Baunya lansung menyengat. Mak sreeeng…

“Iya Cak. Seneng. Lega karena sudah gak punya beban. Kemarin-kemarin sampai minum CTM biar bisa tidur. Sekarang sudah aman. Soal pajak,” kata Yanus bangga. Diam-diam ia berharap, Cak Minto akan bertanya ‘berapa pajake sampaeyan?’. Ternyata tidak. Lagi-lagi Cak Minto menggeser tempe mbenjes-nya ke depan Yanus. Tanpa cabe?

“Lha lombok-nya mana Cak?”
“Ada Kang. Tapi belinya terpisah. Tempe tiga bonus lombok satu. Kalau beli tempe lima bonus lombok dua,” kata Cak Minto sambil ndrenges. Biyuh, menyebalkan sekali tampangnya.

“Omong-omong, sampeyan ndak nyambangi Bu Mimin ta? Anake mati kena dipteri,” kata Cak Minto. Kali ini sambil menggeser piring berisi tahu goreng.

“Kasihan Bu Mimin, Kang. Kapanhari kepontang-panting lari ke sana ke sini cari utangan buat biaya pengobatan anaknya. Ya pas jaman gini, semua sibuk beli buku buat anak-anaknya, gak ada yang mau kasih utangan. Bu Mimin lari ke Wak Jupri, rentenir,” kata Cak Minto.

Yanus yang mulai menimati tempe mbenjes tanpa cabe mendadak kepedesan dalam hati. Apalagi saat Cak Minto kembali bercerita, “Jadi Bu Mimin apese dobel-dobel, Kang. Anaknya mati. Ke dua ya kejepit rentenir. Lha wong Wak Jupri. Siapapun tau siapa dia. Hatinya terbuat dari watu item”.

Hati Yanus meriang. Keringat dingin mengalir kencang. Mengapa tiba-tiba merasa bersalah?

“Padahal Bu Mimin gak butuh banyak, Kang. Paling cuman Rp 700 ribu-an. Tapi ya gimana. Tetangga-tetangganya ya orang miskin. Pak Juhari yang dulu pernah diisukan pacaran sama Bu Mimin juga habis-habisan buat ngasih makan empat anaknya. Neng Hanik yang buka salon juga mendadak kere gara-gara nebus suaminya yang kena garuk pas jualan narkoba”.

Yanus merintih. Benar-benar merintih? Rp 700 ribu? Itu angka yang jauh lebih kecil ketimbang pajak yang baru ia bayarkan. Astaga…

“Untung orang-orang kampung ada yang berani melabrak Wak Jupri. Jadi bunga pinjaman Bu Mimin gak sampai tinggi. Tapi ya tetep berbunga. Katanya, bank saja ada bunganya. Masa dia tidak.

Yanus buru-buru berdiri. Membayar kopinya yang masih berkurang seperempat gelas, lalu mancal motor dan berlalu. “Duh gusti. Mengapa kebahagiaan ini harus tercemari?”

Yanus membelah malam. Gerimis datang perlahan, membuat tubuh dan hatinya makin menggigil. Ada yang menggelepar, mengais-ngais ingin keluar dari jantungnya. Ia tak tahu harus berada di sisi mana. Hidup yang sungguh keji.

Priiiiiiit! Waduh. Yanus menepi. “Selamat malam, pak. Bisa lihat SIM dan STNK?”

Yanus baru sadar kalau dompetnya tertinggal di toko gara-gara pingin segera pulang tadi sore. “Ketinggalan, pak?”

Lalu si polisi mulai mengeluarkan surat tlang dan memberi nasehat-nasehat sempurna. Tentang tata tertib berlalu lintas, perlunya disiplin diri agar bisa melindungi diri sendiri dan orang lain, dan entah apa lagi. Yanus yang sedang gamang tak mampu mendengar. Yang pasti, saat si polisi menyebut besaran angka yang layak jadi alternatif kesepakatan ketimbang pergi ke pengadilan, dan kebetulan di saku Yanus ada beberapa lembar ribuan, maka malam kelu-pun berlalu.

Polisi itu pergi, Yanus malah memilih untuk menepi. Ndepipis di pinggir jalan, menyalakan samsu, dan menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba merangkai peristiwa-peristiwa yang baru saja dialami. Layaknya puzzle ekstra rumit, atau berlari-lari kecil mengejar suara di tengah labirin.

Hidup, apakah ia memiliki hasrat untuk bersahabat? Ataukah ia mulai memilih, pada siapa kan bersahabat? Pertanyaan sulit. Pertanyaan yang sangat sulit. Yanus memilih untuk menyerah dan berbisik lirih, “Oo… ancene asuu…”


Surabaya, 7 Januari 2011 | Hendro D. Laksono

read more>>>

Menjadi Trio Detektif

Saturday, April 24, 2010

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan kawan lama. Tentu jadi fase tak biasa, karena batas waktu yang kami lewati tanpa bersapa, mungkin sudah sampai di batas yang tak masuk akal.

Sambil menikmati kopi dan -ehm- beberapa batang pro, kami bicara tentang banyak hal. Salah satunya, novel-novel Trio Detektif karya Alfred Hitchcock. Mulai dari Misteri Nuri Gagap, Mata Api, dan masih banyak lagi.

"Ide gila yang tidak pernah saya lupa, kamu sempat berpikir untuk membuat bisnis detektif swasta. Hanya gara-gara sebuatan Trio Detektif," kata Si Kawan.

Ya, Trio Detektif. Betapa kami dulu sangat tergila-gila pada aksi mereka. Mencari tahu yang tak mungkin, menjelaskan fakta-fakta irasional jadi sangat rasional. Dan boleh percaya boleh tidak, gara-gara novel ini, kami sempat tak percaya pada hantu. "Tapi gara-gara film Suzana 'Sundel Bolong' semua jadi berubah," kenang kawan saya.

Mengutip Wikipedia, Trio Detektif beranggotakan Jupiter "Jupe" Jones, penyelidik pertama, seorang mantan aktor cilik. Jupiter adalah seorang yang pintar dan memiliki ingatan kuat serta kemampuan deduktif. Jupiter adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama pamannya Titus Jones dan bibi Matilda.

Lalu Peter "Pete" Crenshaw, penyelidik kedua. Pete adalah seorang atlit atletik yang tidak menyukai situasi berbahaya tetapi sering menjadi andalan dalam beberapa situasi yang memerlukan aksi. Ayahnya adalah seorang ahli efek khusus di Hollywood. Dan terakhir, Robert "Bob" Andrews, jago dokumentasi dan penelitian. Bob digambarkan sebagai seorang yang suka belajar dan memakai kaca mata. Bob bekerja sebagai pegawai paruh waktu di perpustakaan sehingga cocok dengan perannya sebagai pengumpul data.

"Satu hal yang membuat rencana ini gagal, tak ada satupun diantara kita yang mau jadi Peter Crenshaw. Kita hanya berebut ingin jadi Jupe atau Bob," kata kawan saya lagi. Saking serunya beradu argumentasi, kami sempat berdebat habis-habisan. Layaknya kandidat presiden di pemilu, kami jadi lupa, mengapa harus merasa perlu jadi yang layak dipilih. Yang penting ngotot dan harus menang! Hahaha....

Ya, waktu memang terus bergerak. Tiap fase yang kita lalui seperti ruang-ruang kosong yang mendadak terisi lalu ditinggalkan begitu saja. Sempat memajang pigura, menata kursi, menumpuk buku dan majalah, menikmati rock n roll, lalu berlalu. Meninggalkan kenangan, yang suatu saat mungkin terasa hampa.

Kemudian seperti ombak yang bergulung, ia menampar bibir pantai meninggalkan buih dan riak kecil, bergerak mundur dan kembali meninggalkan pasir pantai. Bergerak mendekat, kembali pulang. Selalu seperti itu.

Ah, jadi ingin memutar waktu. Melihat yang terjadi di masa lalu dengan cara yang lebih arif. Agar lebih lihai memahami, mengerti, mengurai tiap detail perjalanan. Bukan sebagai saya, tapi sebagai langit.

read more>>>

Lorong Batu

Thursday, February 25, 2010

Yanus tak kuasa menahan diri. Hatinya timbul tenggelam. Seperti bintang yang digulung mendung malam. Tangannya terus mengepal, memaki tiap menit yang berganti.

"Ya memang harus bicara duit. Lha sampeyan itu edan gak kathokan atau gimana," kata Diran.
"Tapi ini urusannya beda. Duit ya duit. Nanti, itu nanti," kata Yanus berusaha meyakinkan.

"Gini lho. Kalau saya wahing keluar duit, ngupil keluar duit, ngising keluar duit, pasti saya akan bilang seperti itu. Tapi nyatanya gak keluar duit-e. Trus gimana?"

"Trus gimana?"
"Ya kalau wahing keluar itu, ngupil juga itu... bukan duit"
"Bathukmu sempal. Trus gimana? Apa nggak ada kompromi?"
"Bapaknua si Wati bilang gitu. Anaknya mau dititipkan si Sawo. Mau dibawa ke Batam. Dia sudah pegel diuber hutang"

Yanus membanting rokok kreteknya. "Sawo ninggalin duit berapa se? Sini tak ganti. Ponakanku itu masih pingin sekolah. Masih mau belajar nari. Masih pingin merasakan baca buku dan diuber-uber PR. Berapa?"

"Sepuluh juta, Cak. Itu nanti tiap bulan mau dikirimin lagi. Minimum katanya sejuta"
Yanus mlungker. Kalau mengganti sepuluh juta ya runyam. Diam-diam ia membayangkan seperti yang diomelkan Diran. Kalau wahing keluar duit. Kalau ngupil keluar duit. Kalau ...

"Jadi diganti, Cak? Saya tak nelpon Sawo sama bapaknya Wati. Masih bisa dibatalkan kok. Kata bapaknya Wati, dia juga gak tega melepas Wati ke Batam," kata Diran.

"Aku gak pegang duit segitu. Kalau dua ratus lima puluh ribu gimana?"
Diran mbesengut. "Lha sampeyan itu edan gak kathokan atau gimana?" kata Diran balik bertanya.

Malam merintih. Seperti Yanus. Wati sudah dia anggap seperti anak perempuannya. Tapi gara-gara monster sial bernama kemiskinan, semua jadi berantakan. Yanus yang membiayai proses kelahiran Wati. Yanus juga yang membiayai sekolah, membelikan baju seragam, dan entah apa lagi. Istri Yanus juga sayang pada anak perawan yang baru kenal pembalut setahun lalu itu.

"Jadi gitu ya Cak. Saya tak bilang ke Sawo sama bapaknya Wati. Sampeyan sudah merestui," kata Diran pelan. Yanus gusar menggelengkan kepala. Entah mengapa, ia merasa bakal kehilangan sesuatu. Ia jadi ingat pembicaraan dengan istrinya, "Anak itu bukan sekedar buah hati, bukan pula buah cinta. Apalagi onggokan daging yang tumbuh dan berkembang. Ia harapan. Sebuah oase yang mungkin memberi kesejukan, jawaban atas banyak pertanyaan".

Istrinya yang saat itu mendengar dengan ekspresi sungguh-sungguh, tak sepenuhnya memahami maksud Yanus. Yang ia tahu, Yanus selalu sungguh-sungguh saat bicara cinta. Dan Wati, keponakan mereka, seperti jawaban atas kerinduan. Karena Yanus selalu ingin punya anak perempuan.

Kini, Yanus menepi bersama malam. Wati telah pergi. Lolongan dan air mata bapak Wati masih terdengar. Tapi Yanus yang gundah mencoba tak peduli. Biarlah, biarlah semua mengalir dalam lorong batu. Bukankah persoalan hanya masalah waktu. Untuk datang dan hinggap di benak semua orang.***

surabaya, februari 2010 | hendro d. laksono

read more>>>

Selamat Hari (Menjadi) Buruh Internasional

Thursday, May 01, 2008

“Saya bukan buruh. Apa yang saya lakoni selama ini adalah profesi. Jadi saya tak perlu ikut-ikutan unjuk rasa di Hari Buruh Internasional”

Profesi Anda apa?
”Saya wartawan”

Berarti Anda sekolah wartawan?
“Nggak, saya lulusan sekolah arsitektur”

Anda wartawan yang khusus nulis dunia arsitektur?
“Nggak juga. Saya juga nulis berita politik, kriminal dan hukum. Ya, sesekali nulis arsitektur”

Oo, berarti Anda yang menentukan standar gaji Anda sendiri? Per tulisan, per foto?
“Ya nggak dong. Kayak apa saja. Kan udah dapat gaji pokok yang saya terima tiap awal bulan. Ditransfer langsung ke nomor rekening saya. Keren nggak?”

Pasti Anda juga bebas memilih media tempat memunculkan karya-karya Anda.
“Anda ini gila apa sinting? Ya nggak lah. Wong saya kerja di sebuah media. Ya hanya di media itu saya berkarya”

Anda ikut asosiasi profesi?
“Nggak. Saya bener-bener wartawan independen!”

Terus Anda pegang Kode Etik Jurnalistik?
“Ya iyalah. Itu nyawa saya”

Kode etik yang mana?
“Pokoknya ada. Kode Etik Wartawan Indonesia”

Yang disepakati beberapa asosiasi profesi wartawan? AJI, PWI, dan lain-lain itu?
“Kalau nggak salah”

Omong-omong, mengapa Anda berprofesi jadi wartawan?
“Ini suara hati. Dan tentu demi keluarga saya”

Juga demi masyarakat luas?
“Halah. Sampeyan ini bicaranya kok tinggi amat. Kemoncolen”

Standar kerja yang Anda pakai, itu asal masyarakat senang atau asal perusahaan senang?
“Demi masyarakat, khususnya audience media saya”

Kalau apa yang menyenangkan masyarakat berbeda dengan kepentingan perusahaan?
“Saya akan berstrategi. Masyarakat tetap jadi prioritas”

Termasuk siap dipecat?
“Waduh, kan banyak jalan menuju Roma? Kalau dipecat, anak-istri saya makan apa?”

Kok takut dipecat?
”Ya mesti lah. Gaji di sini sangat lumayan-yan-yan”

Jadi anda ini profesi ya, bukan pekerja?
“Ya iyalah!”

read more>>>

Mengapa harus menggambar Soeharto?

Wednesday, January 30, 2008

Begitu Soeharto meninggal, setidaknya ada empat gambar kartun berhasil saya buat. Sebagian lebih banyak menyajikan sisi abu-abu, bukan hitam putih. Karena di mata saya, nama Soeharto bukan representasi pas buat ruang hitam putih. Bukan kebetulan juga, dalam perjalanan hidup saya, nama yang satu ini cukup memberi banyak pengaruh.

Saya yakin, banyak di antara Anda juga merasakan hal yang sama. Tapi entah mengapa, saya jadi ragu untuk memunculkan di blog ini. Jangan tanya mengapa, karena saya sendiri tidak tahu. Mengapa harus menggambar Soeharto? Dan mengapa tidak memunculkan gambar Soeharto di sini.

read more>>>

SURAT TERBUKA UNTUK PENGUSAHA MEDIA

Tuesday, November 27, 2007

Apa kabar Bapak, Ibu, Kawan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Untuk memahami, mengerti, mencari jalan paling sehat, berdialog dengan Anda. Banyak jalan buntu, setidaknya, seperti itu yang saya rasakan belakangan. Bahwa tiap pintu mendadak terkunci, tembok menjadi sedemikian tebal. Pun kesombongan. Sungguh berbanding terbalik dengan akal, rasa, dan sisi waras.

Saya tak ingin bicara masa lalu di depan Anda, tapi justru masa depan. Tentang apa yang akan Anda lakukan. Sebelum keputusan lama terulang ; kembali membuat sebuah media, media massa tentunya. Entah cetak, atau elektronik. Please, lakukan beberapa hal kecil ini.

Ini bisnis media, boss. Bukan ayam goreng
Perhitungan yang diterapkan di bisnis ayam goreng terbilang sangat sederhana. Berapa modal yang keluar, total, dibikin rata-rata, akan ketemu harga. Dalam hitungan beberapa bulan, semua akan langsung terbaca. Ini akan berjalan lama, atau malah seumur jagung. Ayam goreng bagus tentu dicari, yang rasanya biasa saja, pasti ditinggal. Lidah memang tidak bisa bohong. Sementara bisnis media butuh waktu yang jauh lebih panjang. Ada yang bilang, butuh minimal waktu tiga tahun buat memulai, bajkan lebih. Ada banyak variabel multi dimensi yang mesti dipatuhi. Tidak sekedar trust, tak sekedar produk bagus. Jauh lebih kompleks. Ada yang bilang, bisnis satu ini dipengaruhi 10 persen kualitas produk, 20 persen marketing, dan 70 persen faktor luck.

Orang media bukan tukang
Banyak konflik antara pemilik modal dengan karyawan, khususnya di redaksi, bermula dari pemahaman ini. Pemilik modal kerap berpikir bahwa redaksi hanya pion-pion kecil. Bisa digerakkan, sesuai dengan kebutuhan perut. Logika perut kemudian digulirkan untuk menghantam intelektualitas, jurnalisme, bahkan fungsi hakiki media massa. Tak banyak pemilik modal memahami, jurnalis merupakan makhluk perpaduan seniman, intelektual, dan tentara sekaligus. Mereka patuh pada prinsip profesi, kemanusiaan, dan kepuasan dalam berkarya. Kuat, tegas, tanpa kompromi.

Saham 20 persen buat karyawan
Ingin membangun perspektif marketing di kalangan karyawan, beri saham 20 persen untuk mereka. Sehingga, saat perusahaan terancam, karyawan bakal ikut panik. Saham 20 persen lumayan lho. Tapi sense of belonging, lebih lumayan lagi. Percaya deh!

Tak lagi 80 persen oplah, 20 persen iklan
Minat baca masyarakat kita memang rendah. Tapi sesungguhnya bukan karena tanpa minat. Tapi prioritas nasib, memilih kebutuhan sekunder sebagai penentu. Biaya mengkonsumsi media dinilai besar, mahal, sehingga tak terjangkau. Maka, pangkas harga jual. Konyol? Tentu tidak, karena permainan porsi iklan sudah mulai terbuka. Tak ada yang kini melarang, kapling iklan jumlahnya harus 20 persen. Bisa lebih, bahkan hingga 40 persen. Jangan takut bangkrut gara-gara menjual produk dengan harga murah. Karena mencerdaskan masyarakat itu masih jadi kewajiban. Logika subsidi kan bisa dilakukan dengan cantik.

Membangun kebutuhan, bukan menaklukkan pasar
Cara gampang menaklukkan pasar adalah dengan mencetak oplah tinggi, menebus semua ruang baca, agen, toko buku, dan sejenisnya. Selesai. Tapi, apa ini memenuhi kebutuhan? Iya, pada hal tertentu. Sekedar mempermudah akses. Agar sempurna, perkaya kualitas produk, cerdik di content dan packaging sekaligus. Pembaca loyal akan terbentuk. Pelan bukan kepalang, tapi tetap loyal. Jika ini terjadi, suatu saat, Anda pasti mentertawakan masa lalu gara-gara suka berpikir tentang oplah tinggi.

Iklan sehat, bukan yang gelap mata
Katanya, ada sebuah majalah terpaksa memecat marketingnya. Gara-gara setelah menulis kasus sebuah perusahaan, tim marketing menerima iklan dari perusahaan bermasalah ini. Ya iyalah, pecat saja.

Terakhir, ikuti workshop jurnalistik!
Iya. Anda wajib ikut workshop jurnalistik. Minimal paham apa jurnalistik, berita, fungsi media massa, kode etik, UU Pokok Pers, cara menulis yang baik, memotret, dan lain sebagainya.

read more>>>

ABDUL MANAN DAN BAGIR MANAN

Monday, September 17, 2007

Ada perbedaan yang sangat signifikan, antara dua nama ini. Yang pertama, setahu saya, tak pernah berubah dalam menegakaan benang basah kebebasan pers Indonesia. Meski skala yang ia janjikan, tak selebar yang sudah dilakukan para seniornya, Goenawan Mohamad, atau Mochtar Lubis.

Abdul Manan, sejak jaman kuliah, memilih untuk menelan banyak kajian yang berhunungan dengan pers Indonesia, masa lalu, kini, dan masa depan. Ia yang selalu berusaha menjaga pilihan kata dan intonasi, hanya bisa terganggu jika sudah diajak bicara soal kebebasan pers. Sedikit tegang, kadang ada emosi yang tersedak.

Belakangan, Abdul Manan makin tekun menerjuni perjuangannya, dengan melebur di AJI, jadi korban lemparan kotak tissue, dan menjadi Sekjen AJI.

Sedang Bagir Manan, dalam perspektif kebebasan pers Indonesia, entah berada di posisi mana. Konsistensi yang ia janjikan kelewat meliuk, padahal skala yang ia terjuni tidak main-main, nasional bahkan internasional. Setelah dianggap cukup memberi angin segar dalam menangani kasus majalah Tempo yang akhirnya membebaskan pemimpin redaksi majalah Tempo, Bambang Harymurti, dari jeratan pidana dengan menggunakan UU Pokok Pers, lalu memenangkan Koran Tempo dari gugatan perdata soal pencemaran nama baik yang diajukan oleh pengusaha Marimutu Shinivasan, kini Bagir seolah menarik angin segar itu, gara-gara memenangkan kasasi Soeharto.

Mengutip ANTARA, kuasa hukum Majalah TIME Asia, Todung Mulya Lubis, memandang aneh kasus gugatan perdata Soeharto terhadap majalah tersebut yang diputus oleh majelis hakim yang diketuai oleh hakim militer. Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, Todung mempertanyakan pertimbangan Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan yang menunjuk hakim militer untuk menangani sebuah kasus pers. "Kalau menangani kasus-kasus yang ada kaitannya dengan militer `ok`. Tapi untuk kasus yang begitu penting seperti ini menurut saya memang ada tanda tanya besar," tuturnya. Perkara kasasi yang memenangkan mantan Presiden Soeharto melawan majalah TIME diputus oleh majelis hakim yang diketuai Ketua Muda Militer MA, Mayjend TNI Purn German Hoediarto dan beranggotakan M Taufik serta Bahauddin
Qoudry.

Bikin bingung, makin bingung. Tapi menutup tulisan ini, saya mengambil kesimpulan, jangan menilai orang dari Manan-nya. Tapi nilailah dari Abdul atau Bagir-nya.

read more>>>

HARI MERDEKA YANG INDAH

Saturday, August 18, 2007

Hari merdeka lagi, hari berkejaran dengan jalan keluar lagi. Di setiap jalan, gang, orang sibuk memasang rambu atau penutup jalan. "Maaf, ada peringatan hari merdeka. Ada lomba makan krupuk dan balap karung. Malam nanti ada syukuran, tumpengan. Anda sebaiknya lewat jalan lain," kata mereka. Ada yang disampaikan dengan cara yang laur biasa ramah, ada pula yang super arogan.

Seolah memaknai kemerdekaan sebagai alat legitimasi. Bahwa kemerdekaan adalah alasan untuk menutup jalan umum, bahwa lomba balap karung merupakan jalan paling bijak, lebih bijak ketimbang kesibukan pion dan mesin kapitalisme, pekerja, buruh, atau siapa saja.

Tidak, tidak masalah. Tak perlu dipersoalkan. Toh ini hanya ritual tahunan. Karena bagi sebagian masyarakat, merayakan hari merdeka hanya sebatas panjat pinang, lomba balap karung, atau menggelar tikar di tengah jalan. Mau berkontemplasi? Busyet. Ada-ada saja. "Wong para pemimpin saja tak mengajarkan itu," tukas satu dari mereka.

Yang ia maksud, sudah barang lumrah, ketika ada upacara penting negara atau pemerintah daerah, beberapa ruas jalan umum di Jakarta, Surabaya, atau daerah lain, mendadak jadi kawasan haram buat melenggang. "Ada upacara. Nanti bapak presiden lewat sini," kata mereka yang sibuk berjaga. Atau, "Maaf, kawasan steril. Anda boleh cari jalan lain saja".

Jadi ingat saat ada saudara di rawat di sebuah rumah sakit terkemuka di Surabaya. Kebetulan, Yang Terhormat Bapak Wakil Presiden datang menjenguk tokoh pesantren yang kebetulan masih saudara dengan mantan presiden, yang juga tokoh pesantren. Saya tidak boleh masuk rumah sakit, dihadang pria kekar berseragam.

"Tidak boleh masuk!" hardiknya.
Tapi kakak saya ada di dalam rumah sakit. Tidak ada teman.

"Ada wakil presiden, tidak boleh masuk!"
Lha yang menemani kakak saya siapa? Kalau sendirian, dia stress, tensinya tidak boleh naik. Kalau naik, sakit kepala, malah memperburuk kesehatannya.

"Sudah saya bilang, tidak boleh masuk. Mbok paham lah. Ini orang penting"
Lalu kalau ada apa-apa dengan kakak saya gimana?

"Mas, di dalam ada bapak wakil presiden. Gimana sih?"
Saya diam, hanya bisa memandang makhluk paling menyebalkan ini dengan cara sedemonstratif mungkin. Bagi saya, ini pasti bisa membuat dia tahu, bahwa saya sangat marah.

Tak lama berselang, ada pria berseragam lainnya. Dan tawapun pecah. Mereka bercanda senang, seolah tak ada persoalan. Dan hari merdeka, tetap berjalan seperti biasa. Ada merah putih, baik yang berbentuk bendera atau umbul-umbul, spanduk sponsor yang sarat dengan tagline nasionalisme dan obat greng, dan jalan-jalan yang mendadak jadi ajang balap karung. Ya, hari merdeka yang indah.

read more>>>

OBITUARY SEBUAH AKAL SEHAT

Wednesday, July 04, 2007

Satu persatu, mereka terjungkal dari peradaban. Meninggalkan hamparan rumput segar, yang entah mengapa tak lagi berasa kesejukan. Konon, beberapa tahun silam, banyak orang bilang bahwa ini tanah surga. Harapan siap jadi kenyataan dengan cara yang paling wajar. Tiap mimpi akan mendapat penghargaan dengan cara yang layak. Tapi seperti banyak kisah, selalu ada akhir yang kadang tak memuaskan pembaca, pemirsa, atau pendengarnya. Ini bukan cerita tanpa logika, meski ini cerita yang paling menyedihkan.

Semua gara-gara Sangkuni. Ia datang, bersama beberapa sangkuni lain, kloning busuknya. Datang menghasut para raja, menebar berita bohong, fitnah, dan menawarkan logika-logika palsu. Dasar sang raja berotak bebal, ia lebih suka menganggukan kepala. Bapaknya, raja terdahulu, memilih diam berlagak jadi pandita.

Penasehat yang lain, hanya bisa diam karena dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak mengenakkan ; diam atau dihancurkan diam-diam.
"Saya hanya penasehat, bukan raja. Saya hanya bisa memberi jawaban ketika diminta. Dan berbeda dengan sang raja terdahulu yang tak malu bertanya, raja kini, lebih suka berprasangka, bahwa saya bisa membangun nafsu untuk menjadi raja," keluh Penasehat. Orang-orang yang datang mengadu ikut diam tak berdaya. Tak tahu, kan dibawa kemana akal sehatnya nanti.

Sementara di sana, Punggawa Tata Energi duduk dengan congkaknya. Di ruang sebelah, Punggawa Pembawa Berita menari di atas tumpukan surat-surat cinta. Di ruang lain, ada punggawa yang pura-pura bekerja, tapi pikirannya entah di selangkangan siapa. Di tempat lain, Punggawa Perdagangan Nagari menangis pilu. Bersama Punggawa Lontar, juru tulis kerajaan, dan beberapa pengikut setia.

"Suatu saat, kita akan terbiasa berkenalan dengan dengki dan curiga. Jika kita tak mampu menjilat pantat raja, melumat kelamin Penasehat Sangkuni, kita akan tergilas. Yang artinya, dipaksa untuk meninggalkan nagari ini," timpal Punggawa Perdagangan Nagari. Di depannya, beberapa rekan sejawat mencoba untuk tak meneteskan air mata. Membiarkan punggawa yang hampir delapan tahun berbagi waktu dan ruang itu mengumpulkan barang-barang penting di kotak baja.

"Kawan-kawan seperjuangan, terima kasih atas dukungan dan kepercayaannya selama ini. Hampir delapan tahun saya bergabung dalam sebuah keluarga besar yang luar biasa. Saya banyak belajar di sini, tentang apa arti loyalitas, integritas, berkarya, bercanda, tertawa. Saat ini bisa diartikan sebagai akhir perjalanan, saya lebih suka melihat ini sebagai awal persahabatan. Maafkan kalau ada kesalahan, sepurane yo dulur. Aku tangi dhisik," kata Punggawa Perdagangan Nagari, berdiri lalu meninggalkan ruang kerjanya.

Tak ada air mata, tak ada pula yang berani tertawa. Karena waktu memang telah bergerak dengan caranya sendiri. Yang pasti, kabar ini tak menggoyahkan Sang Raja beranjak dari pengaruh Sangkuni. "Selalu akan ada seleksi alam. Siapa yang bisa bertahan. Akan ada bintang-bintang baru yang siap menjaga nagari ini," katanya.

** untuk mereka yang akhirnya menemukan jalan

read more>>>

Karena Surga Menunggu di Kakinya

Thursday, October 19, 2006

Ada teman cerita, "Lebaran ini, saya tidak bisa pulang kampung. Sedih banget. Aku gak bisa ketemu ayah ibuku, tak bisa ketemu kakak dan adik-adikku, dan ini yang gak seru, aku nggak bisa ketemu dengan tetanggaku, my girl next door, yang luar biasa seksi..."

Anggap saja, nama teman ini Pam. Teman lama, teman saat suka balapan motor di sebuah jalan utama kota Bojonegoro (hahaha). Well, saya tahu siapa yang ia maksud. Namanya Kia, anggap saja gitu. Ia jadi pujaan banyak pria, ramah, eeng.. seksi, dan punya bapak tentara (kasihan ya).

Nah, Pam, teman ini, sejak dulu naksir berat. Sayang, Kia masih punya jalur kuat buat mempertahankan diri dari godaan setan yang terkutuk. Jadi, ia masih selamat dari rengkuhan pendekar berwatak jahat.

"Tapi kawan, sebenarnya bukan itu yang membuat saya ingin pulang. Aku pingin mencium kaki ibuku," kata Pam. Lalu ia bercerita, kapan hari, ia mendengar kabar soal ibunya yang sempat mengeluh. Bahwa anak-anaknya, setelah jadi orang di kota, mulai enggan sambang ke kampung halaman. Mau mudik aja ada alasan masih tugas lah, tidak boleh boss-lah.

"Seperti ini kan repot. Masa aku harus menjelaskan bahwa aku sebagai karywan, berarti sudah menyerahkan nyawaku ke perusahaan? Masa aku mesti menjelaskan konsep dasar kapitalisme, masa harus bicara soal Marx?" kata Pam.

Aku langsung sedih. Baukan karena apa. Karena tiba-tiba saja, aku jadi ingat ibuku, ingat surga di kakinya.

read more>>>

Waktu Bergerak, Semua Bergerak

Wednesday, July 19, 2006

Nang Pare ketemu wong ayu,Ono sing mlaku, ono sing numpak jaran,Jare wektu wis pinter mlayu,Dadi ojo mangkel nek ditinggal jaman.

Sudah lama Yanus tidak mengikuti seminar tahunan yang digelar Asosiasi Pengusaha Barang Bekas Independen. Padahal delapan tahun lalu, ia jadi tokoh yang disegani gara-gara kiprahnya. Ketika penguasa gencar menyuarakan monoloyalitas, Yanus malah berkoar perlunya sebuah organisasi independen.

"Karena kita berurusan dengan barang bekas. Dan itu butuh sense dan taste yang beda," kata Yanus, dikutip kantor berita Perantara.Kini, ketika ia berdiri di depan Gedung Serba Guna Semolowaru Permai, beberapa kilometer dari Taman Hiburan Rakyat, ia merasa gamang. Pertama, mengapa Gedung Serba Guna Semolowaru Permai ada di sini? Bukankah Semolowaru ada di sisi timur Terminal Bratang?

"Memang, Pak. Tapi ini tren baru dunia properti. Darmo Trade Center aja di Wonokromo," kata Humas Gedung Serba Guna. "Lagipula, ini masih bagus, lho. Kita memakai nama yang mambu Surabaya. Seperti bapak tahu, di sini banyak nama keminggris. Nggak nasionalis"

"Contonya apa?"

"Itu, gedung Potatoes Head Center, Pamela Anderson Club, atau…"

"Iya, iya. Saya paham. Ya sudah. Acara dimulai jam berapa?"

"Lima menit lagi. Mohon registrasi dulu, pak"
Eret-eret, Yanus mulai mengisi form. Eret-eret, ia tandantangan.

"Ada lagi?"

"Iya, pak. Ada credit card? Buat deposit?"

"Waduh. Kok kayak mau nginep di hotel?"

"Ini tren baru dunia perseminaran, pak. By the way, ini kolom cita-cita juga belum diisi"
Yanus geleng-geleng kepala. Heran, lama tidak ikut seminar, banyak aturan main yang berubah. Ah, semoga semua ini bertujuan untuk mempermudah. Bukan mempersulit.

Di ruang gedung, peserta seminar masih asyik menikmati kopi. Lumayan, tadi belum sarapan. Jadi bisa ngemil dulu. Setelah mengumpulkan beberapa roti di piring kecil, Yanus memilih tempat ke pojok. Sebagai tokoh dunia usaha barang bekas, lebih baik minggir. Nanti tidak menikmati makanan. Pasti banyak yang menghampiri, tanya ini-itu, ngajak diskusi macam-macam. "Bisa-bisa ndak sempat makan," gumam Yanus.

Tapi apa yang ada di pikiran Yanus sungguh berbeda dengan kenyataan. Di sisi lain ruangan cofee break, beberapa pengusaha berpenampilan perlente menatap tak suka. "Itu siapa sih? Dasinya jelek. Sepatunya butut. Tak ada tampang pengusaha" kata pengusaha satu.

"Itu pasti bukan pengusahanya. Itu barang bekasnya"
Merasa terus dilihat, Yanus tersenyum. Dalam hatinya, "Pasti penggemar"

Setengah jam kemudian, seminar dimulai. Sebagai keynote speaker, ada Prof. Dr. Michael Sinchan, konsultan bisnis dari Jakarta, doktor Havard University yang disertasinya mengangkat tema Memasyarakatkan Barang Bekas dan Membarang Bekaskan Masyarakat. Kabarnya, topik ini sempat membuat salah satu presiden di Eropa tersentak. Lalu membuat order khusus agar saat perang, tentaranya wajib mengumpulkan selongsong peluru guna dijual di pasar global.

"Saya pernah mendengar kabar, pola bisnis pengusaha barang bekas kita masih mbulet di wilayah sampah. Padahal dalam dunia bisnis, itu disebut jorokius atau kemprohius activity. Dan bicara peluang, ini pola dangkal yang berkesan pasif. Jika ingin mencapai kecepatan dalam meraih source yang berkwalitas, mengapa tidak langsung belanja di plaza, membuang isinya, lalu mengambil bungkusnya? Atau memborong barang elektronik sebanyak mungkin, menimbun, lalu menjual sebagai barangbekas?" papar Prof. Dr. Michael.

Yanus dan beberapa pengusaha yang lain bengong. Tapi sebagian besar malah manggut-manggut tanda setuju. "Kita tidak perlu berpikir tentang sterilisasi, memilah sampah, apalagi berpikir tentang standar harga. Larena apa yang kita miliki jelas barang berkualitas. Tak ada kotoran. Bersih, siap dipakai," tambah Prof. Dr. Michael, makin bersemangat, apalagi peserta seminar langsung bertepuk tangan.

Lima belas menit berlalu. Seminar break. Ada makanan steak dari hotel. Dilanjut dengan seminar. Lima belas menit kemudian, break dan ada makanan soto Madura. Seminar lima belas menit, break, seminar, break, sampai jam empat sore.

"Seminar sementara kita akhiri. Karena banyak peserta yang butuh istirahat karena kekenyangan. Tapi dari ulasan Prof. Dr. Michael, kita melihat ada peluang besar yang layak dicoba. Oke, selamat sore, kita bertemu lagi dalam seminar Asosiasi Pengusaha Barang Bekas Independen bulan depan," kata MC yang dari awal sampai akhir selalu pringas-pringis. Nggilani.

Yanus ikut berdiri, meninggalkan arena seminar dengan segudang tanda tanya. Dari awal sampai akhir, ia jadi peserta paling serius. Beda dengan peserta lain, yang terus mencari isu, habis ini makanannya apa. Malah ada yang tidur, baca komik, main play station, nge-game dengan handphone, bahkan ada yang main voli dan basket. Sementara Yanus, terus mendengar setiap kata dan penjelasan dari nara sumber. Membuat catatan, menganalisa, bertanya, dan terus mencoba memahami. Tapi sungguh, ia merasa gagal.

"Ah, jaman sudah berubah bener. Tren dunia bisnis barang bekas sudah berbeda dibanding dulu," katanya. Seminggu kemudian, ia membaca koran dan melihat judul besar di halaman satu ; Ratusan Pengusaha Barang Bekas Bangkrut. - hd laksono

read more>>>

Ideologi Klakson

Thursday, May 04, 2006

Matahari tepat di atas ubun-ubun. Hujan yang biasanya turun deras, siang itu bersembunyi entah di mana. Mungkin sedang ngambek. Mungkin juga sedang ingin menguji, sejauh mana kebutuhan penduduk bumi pada Sang Hujan. Buntutnya, panas datang tiada terkira.
Jalanan Surabaya, seperti biasanya, macet dan terus mengepulkan asap karbon. Suara mesin yang tak pernah dijangkau bengkel berteriak serak, berjibaku dengan makian sopir dan kenyataan hidup yang super pengap.


Di sebuah perempatan tengah kota, lampu merah menyala tak peduli. Kendaraan berjajar jauh dari kesan rapi, menunggu keajaiban jikalau lampu hijau datang lebih cepat dari biasanya. Di kaki lampu merah, ada gelandangan yang terus mengacungkan mangkok peyok. Tak jauh dari tubuh lusuhnya, nampak seorang pria, mungkin umurnya 50 tahun, berdiri di samping sebuah sepeda kerbau. Tampang tuanya berkerut-kerut, rahangnya berkali-kali mengeras. Tepat di belakang Si Pengendara Sepeda Kerbau, ada mobil hitam berkilau megah.

Selang beberapa saat, lampu merah berganti ke hijau. Dalam hitungan detik, suara klakson bersahutan, memekakkan telinga siapa saja yang tak terlindungi kaca mobil dan air conditioner. Selain klakson mobil, truk, bus, lyn, dan sepeda motor tak mau kalah adu suara klakson. Dari speaker motor anak-anak muda yang sudah dimodifikasi, suara kencang melengking. Si Pemilik Motor nampak puas, gara-gara suara klaksonnya tak kalah dengan klakson mobil bahkan truk sekalipun. Potret ini hanya berlangsung beberapa detik.
Karena sejurus kemudian, Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau, mendadak berbalik dan menghantam mobil dibelakangnya. Bruak!

Tiap orang terpaku di atas jok kendaraan. Tak menyangka bakal ada insiden kecil di perempatan jalan. Lampu hijau yang menyala tak membuat lalu lintas bergerak. Hanya karena Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau yang meregang merah padam. "Gak usah nge-bel. Aku gak budeg! Aku ngerti lampu merah harus jalan. Jan***!" makinya luar biasa. Sopir di balik kaca mobil langsung mengkeret. Pucat pasi. Terlebih wanita berparas cantik yang duduk disebelahnya.

Lalu entah berbekal keberanian dari mana, ia membuka kaca dan berkata tulus, "Maaf pak. Sepurane sing kathah". Lalu, Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau beringsut menaiki sepeda dan berlalu. Arus kendaraan kembali normal. Mereka yang sempat jadi saksi peristiwa itu hanya bisa geleng kepala. Mungkin menyalahkan Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau, mungkin mencari kambing hitam yang lain.

Ya, potret kecil ini barangkali pernah dekat dengan keseharian kita. Potret orang-orang yang tersingkir, karena tak mampu mengimbangi percepatan jaman. Potret orang-orang yang tak mengerti, dibalik cepatnya pergerakan jaman, ada orang-orang yang masih lamban, beradaptasi, menyesuaikan dengan stndar-standar atau hukum-hukum baru, untuk kemudian bergerak pelan ketika sedikit mapan.

Pergerakan jaman memiliki caranya sendiri-sendiri. Sama halnya dengan evolusi alam, yang melahirkan pemahaman bahwa mereka yang mampu bertahan adalah yang paling kuat, paling besar dan paling mampu menyesuaikan diri dengan jaman. Tapi sungguh, apakah ini jadi alasan untuk membiarkan orang kalah makin dikalahkan? Padahal kata Kantata Taqwa, "Orang kalah jangan dihina".

Orang kalah bisa jadi kekuatan luar biasa yang mampu meluluhlantakkan konstalasi yang sebenarnya sudah hampir tercipta. Orang kalah adalah korban pergerakan sebuah ideologi yang kadang terasa hambar dan bengis. Dan sayangnya, pergerakan waktu selalu melahirkan orang kalah baru. Ahh, apalah arti sebuah kontemplasi. -hd laksono/kontemplasi/majalah mossaik

read more>>>

Mimpi jadi Superman

Memasuki 100 meter pertama, Roy harus berhadapan dengan lyn bemo yang berhenti mendadak. Tanpa aba-aba yang cukup untuk berbagi waktu dengan akal sehat, sopir lyn itu langsung bergerak ke kiri untuk menjemput penumpang.Roy yang agak buru-buru langsung gelagepan. Sedikit memutar stir ke kiri, sedikit memutar ke kanan, thanks God. Tak ada insiden kecil yang biasanya jadi besar. Membuka kaca mobil, Roy melontarkan makian ke sopir lyn.

"Hoe! Dalane Mbah-mu (jalan punya nenek kamu, red) ya?" teriak Roy beringas. Mendengar makian ini, Si Sopir beranjak merah padam. "Terus, ate laopo (mau apa, red)?" teriaknya, membuat kaget sejumlah pengendara jalan yang mulai memadati jalan kota.Demi melihat tampang sopir lyn yang ekstra sangar, nyali Roy berubah ciut. Terbayang lengannya yang hanya berukuran setengah lengan Si Sopir lyn. Ya sudah, Roy memilih jurus langkah seribu sebagai solusi.

Tapi entah mengapa, sepanjang jalan, ia mulai digerogoti penyakit baru ; ingin jadi Superman! Lebih-lebih saat memasuki 100 meter ke dua. AC mobilnya mendadak mati. Udara panas merayap perlahan tapi pasti. Roy membuka kaca mobilnya lagi. Sembari melirik ke arah spion, jaga-jaga kalau sopir lyn yang mirip Hulk itu diam-diam sudah ada di belakang dengan golok terhunus. Ahh, segar, rasa Roy.

Mendadak, ia dikejutkan dua corong knalpot, milik sebuah motor dua tak dan truk di depan mobilnya. Walau ada perbedaan volume, bentuk dan filosofi kendaraan, keduanya memiliki kesamaan yang luar biasa tak bersahabat. "Asap sialan!" maki Roy.

Ya, begitu kaca mobil terbuka, ia terpaksa menghirup asap knalpot yang luar biasa pekat. Dari motor dua tak dan truk yang sepertinya tak bersahabat dengan bengkel itu, asap mengepul bak pasukan berani mati yang bergerak liar. Meluk-liuk, menjelajah setiap jengkal udara, melibas oksigen, menebar racun dan tertawa kala melihat Roy dan beberapa pengguna jalan yang megap-megap.

Roy tancap gas, tak perduli lampu merah. Pikirnya, sebelum mati konyol gara-gara gas beracun yang bisa jadi mematikan, ia lebih baik berhadapan dengan polisi lalu lintas yang… "Polisi?" sergah Roy terbelalak.
"Selamat pagi, pak. Bisa lihat SIM dan STNK?" tanya petugas yang sempat melambaikan tangan dan kini sudah berdiri di tepi mobil Roy. Lengkap dengan seragam ketat dan kaca mata hitam.

Roy ogah-ogahan menyerahkan SIM dan STNK. Kemudian, untuk beberapa menit, ia harus mendengar nasehat tentang tata tertib berlalu lintas, undang-undang, kedisiplinan, bahkan moralitas kota metropolitan. Roy habis-habisan menahan diri. "Tapi kalau kita selesaikan di sini, ya bisa. Tidak perlu tilang, daripada bapak susuah payah ke pengadilan," kata petugas masih dengan mimik wajah yang luar biasa sopan. Roy memilih alternatif damai. Ia merogoh dompet dan *** (maaf, kalimat-kalimat berikutnya disensor. Karena menyangkut nama baik institusi, red).

Roy kembali melaju. Baju biru mudanya yang tadi nampak licin mengkilat sudah basah oleh keringat dan kemarahan. Sungguh pagi yang indah. Lalu ia berbelok ke sebuah gang di kawasan Ngagel, berhenti di rumah merah jambu berpagar besi tempa.

"Hai," sapa Rara, empunya rumah dengan suara yang memang empuk. Roy kembali cerah. "Nggak enak di rumah. Nggak ada kamu," kata Roy.

Pasangan muda ini, sebetulnya suami istri. Hanya saja, rumah mereka perlu sedikit renovasi. Sayangnya, Rara tidak betah kena debu, aroma bahan bangunan, suara bising, dan segenap atribut yang biasa muncul dalam proses pembangunan rumah. Solusinya, Rara tidur di rumah ibunya, dan untuk sementara, Roy harus tidur sendirian di rumah. "Kalau aku nggak di rumah, siapa yang jaga televisi, DVD, komputer, mesin cuci, kulkas, jam dinding atau patung kucing dari emas kesayanganku," kata Roy saat itu.

Jadi, ini hari ke 14, dimana ia harus menjalani rutinitas semacam ini. Bangun pagi, menjemput istrinya, lalu berangkat ke kantor bareng. Sampai di 100 meter ke lima, Rara nyeletuk, "Wah. Laporan buat pertemuan nanti siang ketinggalan, nih".Atas nama cinta, Roy menepis rasa jengkelnya, "Oke sayang". Mobil berbelok, kembali ke gang kecil di kawasan Ngagel. Untuk menyelesaikan tahap ini, Roy harus melewati waktu 15 menit. Yang panas, pengap, dan menegangkan (ia harus berhenti mendadak gara-gara lyn setidaknya tujuh kali, red).
"Maaf, ya. Nih, laporannya. Yuk berangkat," kata Rara. Roy menarik nafas lega dan mulai menjalani perannya sebagai suami, sopir dan warga negara yang baik. Ia menggerakkan mobil ke gerbang jalan raya, dengan cara yang sopan dan menawan.

Tapi, "Aduh! Jalan udah macet nih," kata Roy sambil melihat mobil, sepeda motor dan becak yang berjejal di jalana spal. Rara yang merasa jadi sumber masalah keterlambatan merasa tidak enak hati. Sembari memegang pundak suaminya, ia berbisik, "Kita lewat jalan alternatif di belakang aja. Sedikit jauh, tapi sepi. Ayuk, putar mobilnya".Roy setengah putus asa bak kerbau dicocok hidung. Tak perduli apakah ini benar atau salah, ia benar-benar memutar mobil dan bergerak ke arah yang berlawanan.

Oke, sedikit lancar. Aman. Tak ada aroma knalpot, atau panas matahari yang dipantulkan kaca mobil atau gedung. Aromanya juga aroma sedap. Sedap?

"Maaf mas. Mundur aja. Ada orang punya hajat di sana. Mending mundur aja," cegat seorang laki-laki dengan nada yang luar biasa sopan. Roy diam tak bergerak. Pun Rara yang makin tidak enak hati. Alunan musik dangdut terdengar di salah satu sudut jalan. Roy masih diam. Rara menggerak-gerakkan lengan Roy yang menancap di kemudi. "Mas, mas. Kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?"

Roy diam seribu bahasa. Pikirannya menggumpal dilapisi selaput tebal. Wacana filsafat, matematika, ilmu pasti, sosial, dan lain-lain, dibiarkan membusuk dan digerogoti sejuta piranha. Telinganya tak mampu mendengar jeritan Rara yang panik, dan suara-suara warga yang datang, "Nyebut, Mas. Nyebut".

Roy masih diam, dengan mata menerawang jauh. Sangat jauh. Pikirannya melayang. Membawa akal sehatnya yang dijejali mimpi. Mimpi menjadi Superman. Yang bisa terbang, tak takut asap knalpot, kemacetan, perilaku sopir yang ngawur, dan lain-lain. -kontemplasi majalah mossaik

read more>>>