SURAT TERBUKA UNTUK PENGUSAHA MEDIA

Tuesday, November 27, 2007

Apa kabar Bapak, Ibu, Kawan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Untuk memahami, mengerti, mencari jalan paling sehat, berdialog dengan Anda. Banyak jalan buntu, setidaknya, seperti itu yang saya rasakan belakangan. Bahwa tiap pintu mendadak terkunci, tembok menjadi sedemikian tebal. Pun kesombongan. Sungguh berbanding terbalik dengan akal, rasa, dan sisi waras.

Saya tak ingin bicara masa lalu di depan Anda, tapi justru masa depan. Tentang apa yang akan Anda lakukan. Sebelum keputusan lama terulang ; kembali membuat sebuah media, media massa tentunya. Entah cetak, atau elektronik. Please, lakukan beberapa hal kecil ini.

Ini bisnis media, boss. Bukan ayam goreng
Perhitungan yang diterapkan di bisnis ayam goreng terbilang sangat sederhana. Berapa modal yang keluar, total, dibikin rata-rata, akan ketemu harga. Dalam hitungan beberapa bulan, semua akan langsung terbaca. Ini akan berjalan lama, atau malah seumur jagung. Ayam goreng bagus tentu dicari, yang rasanya biasa saja, pasti ditinggal. Lidah memang tidak bisa bohong. Sementara bisnis media butuh waktu yang jauh lebih panjang. Ada yang bilang, butuh minimal waktu tiga tahun buat memulai, bajkan lebih. Ada banyak variabel multi dimensi yang mesti dipatuhi. Tidak sekedar trust, tak sekedar produk bagus. Jauh lebih kompleks. Ada yang bilang, bisnis satu ini dipengaruhi 10 persen kualitas produk, 20 persen marketing, dan 70 persen faktor luck.

Orang media bukan tukang
Banyak konflik antara pemilik modal dengan karyawan, khususnya di redaksi, bermula dari pemahaman ini. Pemilik modal kerap berpikir bahwa redaksi hanya pion-pion kecil. Bisa digerakkan, sesuai dengan kebutuhan perut. Logika perut kemudian digulirkan untuk menghantam intelektualitas, jurnalisme, bahkan fungsi hakiki media massa. Tak banyak pemilik modal memahami, jurnalis merupakan makhluk perpaduan seniman, intelektual, dan tentara sekaligus. Mereka patuh pada prinsip profesi, kemanusiaan, dan kepuasan dalam berkarya. Kuat, tegas, tanpa kompromi.

Saham 20 persen buat karyawan
Ingin membangun perspektif marketing di kalangan karyawan, beri saham 20 persen untuk mereka. Sehingga, saat perusahaan terancam, karyawan bakal ikut panik. Saham 20 persen lumayan lho. Tapi sense of belonging, lebih lumayan lagi. Percaya deh!

Tak lagi 80 persen oplah, 20 persen iklan
Minat baca masyarakat kita memang rendah. Tapi sesungguhnya bukan karena tanpa minat. Tapi prioritas nasib, memilih kebutuhan sekunder sebagai penentu. Biaya mengkonsumsi media dinilai besar, mahal, sehingga tak terjangkau. Maka, pangkas harga jual. Konyol? Tentu tidak, karena permainan porsi iklan sudah mulai terbuka. Tak ada yang kini melarang, kapling iklan jumlahnya harus 20 persen. Bisa lebih, bahkan hingga 40 persen. Jangan takut bangkrut gara-gara menjual produk dengan harga murah. Karena mencerdaskan masyarakat itu masih jadi kewajiban. Logika subsidi kan bisa dilakukan dengan cantik.

Membangun kebutuhan, bukan menaklukkan pasar
Cara gampang menaklukkan pasar adalah dengan mencetak oplah tinggi, menebus semua ruang baca, agen, toko buku, dan sejenisnya. Selesai. Tapi, apa ini memenuhi kebutuhan? Iya, pada hal tertentu. Sekedar mempermudah akses. Agar sempurna, perkaya kualitas produk, cerdik di content dan packaging sekaligus. Pembaca loyal akan terbentuk. Pelan bukan kepalang, tapi tetap loyal. Jika ini terjadi, suatu saat, Anda pasti mentertawakan masa lalu gara-gara suka berpikir tentang oplah tinggi.

Iklan sehat, bukan yang gelap mata
Katanya, ada sebuah majalah terpaksa memecat marketingnya. Gara-gara setelah menulis kasus sebuah perusahaan, tim marketing menerima iklan dari perusahaan bermasalah ini. Ya iyalah, pecat saja.

Terakhir, ikuti workshop jurnalistik!
Iya. Anda wajib ikut workshop jurnalistik. Minimal paham apa jurnalistik, berita, fungsi media massa, kode etik, UU Pokok Pers, cara menulis yang baik, memotret, dan lain sebagainya.

12 komentar:

Si Jagoan Makan said...

Bahan rakerr ya bos ?

Tukang Ketik said...

t-o-p neh...

Rudi W Karyadi said...

Jangan2 Anda masih percaya bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi? Segala sesuatu yg masih jual beli, tentu akan kena hukum komoditas. Termasuk industri media.
Blog ini memang bisa diakses gratis. Tp bukan berarti bisa bebas dari hukum komoditas. Cuma soal waktu aja. Di situ lah tantangannya. Setelah media broadcasting takluk pada hukum komoditas, orang menaruh harapan pada THE NEW MEDIA, yaitu pointcasting. Contohnya WEB 2.0 seperti blogging. Hati2, soal waktu saja komodifikasi akan merembes masuk ke media pointcasting. Lalu Anda musti ngungsi ke bentuk2 media baru lg. Begitu seterusnya. Harus terus berjuang. Ga boleh sinis, ga boleh gerutu. Tp tetap waspada membaca perubahan jaman.
Trima kasih.

Anonymous said...

Hey there! I could have sworn I've been to this blog before
but after checking through some of the post I realized it's new to me.
Nonetheless, I'm definitely happy I found it and I'll be book-marking
and checking back often!

my website ... Family Guy The Quest for Stuff cheatt for clams

Anonymous said...

In fact no matter if someone doesn't understand
after that its up to other users that they will assist,
so here it occurs.

Here is my web site: Trucos clash of clans

Anonymous said...

Quality articles or reviews is the crucial to be a focus for the people to visit the site,
that's what this web page is providing.

Also visit my weblog: Nu Garcinia diet

Anonymous said...

I got this web page from my pal who informed me regarding this
website and now this time I am visiting this site and reading
very informative content at this place.

Feel free to visit my web-site :: natural anti aging skin care products

Anonymous said...

Conceptualized by Nintendo visionary Shigeru Miyamoto, Mario has enjoyed over 30 years of
video game superiority, with titles such as Donkey Kong, Super Mario
64, and Paper Mario and many more ranking among the top
must-buy games of generations of gamers. For issues of the real device the developer has
only one option of buying the Android Phone called
Dev1 especially those located outside US. Different kinds of Floppy to USB interface available
are-.

Also visit my homepage :: sega emulator and games ()

Anonymous said...

Wow, this article is nice, my sister is analyzing these kinds of things, thus I am going
to let know her.

My web page ... Make Money Online

Anonymous said...

Admiring the dedication you put into your site and in depth information you offer.
It's great to come across a blog every once in a while that isn't the same unwanted rehashed material.

Wonderful read! I've bookmarked your site and I'm including your RSS feeds to my Google account.


Here is my blog Dr Dre Beats Studio

Anonymous said...

Some booksellers give on-line rate reductions which are not available in store.
Because those who follow through with the techniques being taught are certain to succeed,
and offer like this is sure to sell out quickly.
Mail the information to the IRS address shown in the lower
left corner of the notice.

my web page ... Boca Raton CPAt test california

Meiqing Xu said...

151010meiqing
louboutin
air force 1
snapbacks wholesale
longchamp outlet
longchamp
sac longchamp
hollister kids
moncler outlet
p90x workouts
jordans for sale
polo outlet
ralph lauren pas cher
cheap oakleys
hollister
cheap ray ban sunglasses
swarov ski jewelry
michael kors outlet online
marc jacobs
ray ban outlet
kate spade
christian louboutin
ugg slippers
abercrombie and fitch
christian louboutin uk
longchamp pas cher
louis vuitton outlet
abercrombie
adidas shoes
lebron james shoes
kobe bryant shoes