Menjadi Trio Detektif

Saturday, April 24, 2010

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan kawan lama. Tentu jadi fase tak biasa, karena batas waktu yang kami lewati tanpa bersapa, mungkin sudah sampai di batas yang tak masuk akal.

Sambil menikmati kopi dan -ehm- beberapa batang pro, kami bicara tentang banyak hal. Salah satunya, novel-novel Trio Detektif karya Alfred Hitchcock. Mulai dari Misteri Nuri Gagap, Mata Api, dan masih banyak lagi.

"Ide gila yang tidak pernah saya lupa, kamu sempat berpikir untuk membuat bisnis detektif swasta. Hanya gara-gara sebuatan Trio Detektif," kata Si Kawan.

Ya, Trio Detektif. Betapa kami dulu sangat tergila-gila pada aksi mereka. Mencari tahu yang tak mungkin, menjelaskan fakta-fakta irasional jadi sangat rasional. Dan boleh percaya boleh tidak, gara-gara novel ini, kami sempat tak percaya pada hantu. "Tapi gara-gara film Suzana 'Sundel Bolong' semua jadi berubah," kenang kawan saya.

Mengutip Wikipedia, Trio Detektif beranggotakan Jupiter "Jupe" Jones, penyelidik pertama, seorang mantan aktor cilik. Jupiter adalah seorang yang pintar dan memiliki ingatan kuat serta kemampuan deduktif. Jupiter adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama pamannya Titus Jones dan bibi Matilda.

Lalu Peter "Pete" Crenshaw, penyelidik kedua. Pete adalah seorang atlit atletik yang tidak menyukai situasi berbahaya tetapi sering menjadi andalan dalam beberapa situasi yang memerlukan aksi. Ayahnya adalah seorang ahli efek khusus di Hollywood. Dan terakhir, Robert "Bob" Andrews, jago dokumentasi dan penelitian. Bob digambarkan sebagai seorang yang suka belajar dan memakai kaca mata. Bob bekerja sebagai pegawai paruh waktu di perpustakaan sehingga cocok dengan perannya sebagai pengumpul data.

"Satu hal yang membuat rencana ini gagal, tak ada satupun diantara kita yang mau jadi Peter Crenshaw. Kita hanya berebut ingin jadi Jupe atau Bob," kata kawan saya lagi. Saking serunya beradu argumentasi, kami sempat berdebat habis-habisan. Layaknya kandidat presiden di pemilu, kami jadi lupa, mengapa harus merasa perlu jadi yang layak dipilih. Yang penting ngotot dan harus menang! Hahaha....

Ya, waktu memang terus bergerak. Tiap fase yang kita lalui seperti ruang-ruang kosong yang mendadak terisi lalu ditinggalkan begitu saja. Sempat memajang pigura, menata kursi, menumpuk buku dan majalah, menikmati rock n roll, lalu berlalu. Meninggalkan kenangan, yang suatu saat mungkin terasa hampa.

Kemudian seperti ombak yang bergulung, ia menampar bibir pantai meninggalkan buih dan riak kecil, bergerak mundur dan kembali meninggalkan pasir pantai. Bergerak mendekat, kembali pulang. Selalu seperti itu.

Ah, jadi ingin memutar waktu. Melihat yang terjadi di masa lalu dengan cara yang lebih arif. Agar lebih lihai memahami, mengerti, mengurai tiap detail perjalanan. Bukan sebagai saya, tapi sebagai langit.

0 komentar: