Ideologi Klakson

Thursday, May 04, 2006

Matahari tepat di atas ubun-ubun. Hujan yang biasanya turun deras, siang itu bersembunyi entah di mana. Mungkin sedang ngambek. Mungkin juga sedang ingin menguji, sejauh mana kebutuhan penduduk bumi pada Sang Hujan. Buntutnya, panas datang tiada terkira.
Jalanan Surabaya, seperti biasanya, macet dan terus mengepulkan asap karbon. Suara mesin yang tak pernah dijangkau bengkel berteriak serak, berjibaku dengan makian sopir dan kenyataan hidup yang super pengap.


Di sebuah perempatan tengah kota, lampu merah menyala tak peduli. Kendaraan berjajar jauh dari kesan rapi, menunggu keajaiban jikalau lampu hijau datang lebih cepat dari biasanya. Di kaki lampu merah, ada gelandangan yang terus mengacungkan mangkok peyok. Tak jauh dari tubuh lusuhnya, nampak seorang pria, mungkin umurnya 50 tahun, berdiri di samping sebuah sepeda kerbau. Tampang tuanya berkerut-kerut, rahangnya berkali-kali mengeras. Tepat di belakang Si Pengendara Sepeda Kerbau, ada mobil hitam berkilau megah.

Selang beberapa saat, lampu merah berganti ke hijau. Dalam hitungan detik, suara klakson bersahutan, memekakkan telinga siapa saja yang tak terlindungi kaca mobil dan air conditioner. Selain klakson mobil, truk, bus, lyn, dan sepeda motor tak mau kalah adu suara klakson. Dari speaker motor anak-anak muda yang sudah dimodifikasi, suara kencang melengking. Si Pemilik Motor nampak puas, gara-gara suara klaksonnya tak kalah dengan klakson mobil bahkan truk sekalipun. Potret ini hanya berlangsung beberapa detik.
Karena sejurus kemudian, Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau, mendadak berbalik dan menghantam mobil dibelakangnya. Bruak!

Tiap orang terpaku di atas jok kendaraan. Tak menyangka bakal ada insiden kecil di perempatan jalan. Lampu hijau yang menyala tak membuat lalu lintas bergerak. Hanya karena Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau yang meregang merah padam. "Gak usah nge-bel. Aku gak budeg! Aku ngerti lampu merah harus jalan. Jan***!" makinya luar biasa. Sopir di balik kaca mobil langsung mengkeret. Pucat pasi. Terlebih wanita berparas cantik yang duduk disebelahnya.

Lalu entah berbekal keberanian dari mana, ia membuka kaca dan berkata tulus, "Maaf pak. Sepurane sing kathah". Lalu, Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau beringsut menaiki sepeda dan berlalu. Arus kendaraan kembali normal. Mereka yang sempat jadi saksi peristiwa itu hanya bisa geleng kepala. Mungkin menyalahkan Lelaki Tua Pengendara Sepeda Kerbau, mungkin mencari kambing hitam yang lain.

Ya, potret kecil ini barangkali pernah dekat dengan keseharian kita. Potret orang-orang yang tersingkir, karena tak mampu mengimbangi percepatan jaman. Potret orang-orang yang tak mengerti, dibalik cepatnya pergerakan jaman, ada orang-orang yang masih lamban, beradaptasi, menyesuaikan dengan stndar-standar atau hukum-hukum baru, untuk kemudian bergerak pelan ketika sedikit mapan.

Pergerakan jaman memiliki caranya sendiri-sendiri. Sama halnya dengan evolusi alam, yang melahirkan pemahaman bahwa mereka yang mampu bertahan adalah yang paling kuat, paling besar dan paling mampu menyesuaikan diri dengan jaman. Tapi sungguh, apakah ini jadi alasan untuk membiarkan orang kalah makin dikalahkan? Padahal kata Kantata Taqwa, "Orang kalah jangan dihina".

Orang kalah bisa jadi kekuatan luar biasa yang mampu meluluhlantakkan konstalasi yang sebenarnya sudah hampir tercipta. Orang kalah adalah korban pergerakan sebuah ideologi yang kadang terasa hambar dan bengis. Dan sayangnya, pergerakan waktu selalu melahirkan orang kalah baru. Ahh, apalah arti sebuah kontemplasi. -hd laksono/kontemplasi/majalah mossaik

7 komentar:

Dinata said...

Nggak nyangka kalau owner kartunesia ini bisa nulis bagus. Jangan2 ngartunnya memang cuman sambilan, mas? Btw, weblog ini keren abis. Dah sampai 600 hit ya? Selamat!!!!!!!!!

Sekedar berkunjung untuk menjalin blog kartunis indonesia

Iman D. Nugroho said...

Selamat Tinggal Majalah Mossaik,..

Meski nuansa kegagahan terpancar dari tulisan Errol Jonathans di Editorial Majalah Mossaik Edisi 44, Tahun ke IV, Juli 2006, namun kepedihan masih saja terasa. Apalagi ketika Pimpinan Redaksi majalah "Jendela Jawa Timur" itu mengakui adanya kerenggangan antara idealisme ala Mossaik dan kehendak pasar dalam edisi terakhir itu...

cuplikan "hadiahku" untuk majalah Mossaik....aku mengundang sampeyan mampir ke blog-ku.

salam

Dinata (mbak atau mas?), dan Kuncoro, thanks mau berkunjung. Jadi nggak enak nih. Dan Pak Iman, thanks buat artikelnya yang bikin rokok di tanganku sempat tak berasa.

Anonymous said...

Great post, been looking for something like that?!?

Meiqing Xu said...

nike shoes for men
toms outlet
coach factory outlet
rolex watches
longchamp
ugg sale
kate spade handbags
michael kors handbags
cheap uggs
nike free flyknit
20161216caiyan

Unknown said...

new balance outlet
michael kors outlet online
miami heat jersey
michael kors handbags
true religion jeans sale
jacksonville jaguars jersey
new balance shoes
michael kors outlet
indianapolis colts jerseys
nike trainers uk