Media dan Kekuasaan Kapital (1)

Friday, February 23, 2007

Membuka buku-buku lama di tumpukan lemari, saya menemukan Di Balik Runtuhnya Surabaya Post. Kisah perjalanan 49 tahun berdirinya Harian Sore Surabaya Post, legenda surat kabar dari Surabaya.

Di awal perkuliahan tahun 1992, saya berkenalan lebih dekat dengan jurnalisme ala Surabaya Post. Meski tak kenal langsung dengan nama-nama hebat macam RM Yunani, Peter A Rohi, tapi sempat berkenalan akrab dengan nama Tjuk Swarsono, Zaenal Arifin Emka, Ruba'i Katjasungkana (almarhum), dan Fery Suharyanto. Dalam fase ini, saya juga berkenalan dengan M. Anis, jebolan Surabaya Post yang kemudian melenggang di Tablod Detik dan Tabloid Detak.

Ada banyak hal. Salah satunya, betapa saya mesti bersyukur, karena ke depan saya tahu, jurnalisme yang ditawarkan Surabaya Post pada masa itu, jadi salah satu yang terbaik di Jawa Timur. Secara ekstrim, jurnalisme koran ini hanya 'boleh' disejajarkan dengan KOMPAS.

Tapi saya tidak lagi teringat pada masa keemasan itu. Saya hanya mencoba mereka-reka, bagaimana dulu keluarga besar Abdul Azis memulai dan menjaga sebuah keyakinan. Bagaimana dia mendirikan sebuah harian yang pernah menjadi ikon Surabaya dan Jawa Timur.

Walau tak se radikal Mochtar Lubis, nama A. Azis layak diposisikan sebagai tokoh pers nasional. Jika korannya awet dan jauh dari ancaman pencabutan SIUPP, sungguh bukan karena mata hati dan kecerdasan kritikalnya sudah lumpuh, tapi ia dinilai cerdik, sangat hati-hati. Karena itu, selain aman dari jangkauan pisau breidel, Surabaya Post juga dipercaya para pemasang iklan.

Apapun, ia terbukti mampu membawa koran ini berjaya di dekade 1970 hingga 1980. Ada catatan menyebut, di awal tahun 1980-an, oplah harian sore ini mencapai angka 85 ribu. Bisa dibayangkan, angka seperti ini tentu merujuk pada standar kesejahteraan karyawan.

Namun seperti cerita banyak kerajaan yang gemilang, tentu ada pada masa redup. Karena sang pewaris tahta, ternyata tak mampu jadi penerus yang baik. Katika Ny Toety Azis melanjutkan mimpi suaminya yang telah berpulang memenuhi panggilan-Nya, banyak hal mulai terjadi.

Kebijakan-kebijakannya kerpa menuai rasa tak puas. Demonstrasi terjadi. Pemogokan melengkapi. Sebagai klimaks, 22 Juli 2002, tiga ahli waris perusahaan dinyatakan tak mampu menahkodai Surabaya Post. Koran ini dinyatakan ditutup.

****

Memang. Industri media sangat tak biasa. Sayang, ini juga yang kerap tak dimengerti para penerus kerajaan media. Mereka sering berpikir, prioritas utama industri ini tak berbeda dengan komoditi biasa. Akibatnya, sering ada rasa tak bersalah saat kebijakan yang mengabaikan idelaisme media mengalir begitu saja.

Seorang pengusaha yang pernah mendirikan koran sore di Surabaya malah enteng berujar, "Daripada bikin koran, saya lebih seneng bikin resto ayam goreng". Lebih gila lagi, "Lebih aman bikin panti pijat ketimbang koran"

Ya jelas lah. Karena itu, kita selalu butuh orang tak biasa untuk urusan perusahaan penerbitan. Butuh orang-orang yang berani. Dan yang pasti juga, butuh kapital super besar.

Apakah hasil akhirnya sepadan? Dengan perspektif tertentu, sesungguhnya sangat sepadan. Karena information is power. Ingat pengakuan seorang tokoh dunia (busyet, saya lupa...) yang mengatakan, "Jika Paris dikepung limapuluh batalyon tentara, saya masih bisa tidur. Tapi jika dikepung lima media, saya sudah tidak bisa tidur".

Fakta lain, di era Suharto berkuasa, media massa selalu dikebiri. Karena penguasa ngat sadar, informasi yang disampaikan media massa memiliki kekuatan meski tidak seketika.

Artinya, mereka yang menguasa informasi akan jadi orang yang berkuasa. (bersambung)

2 komentar:

makjemunuk said...

Kok Mister T***NG nggak disebut ? Bukannya dia bagian dari sejarah ambruknya Surabaya Post ? -Ah nunggu lanjutannya aja.

Setahu saya Mister T***NG benernya gak masuk itungan. Cuma menang mentang-mentang doang. HA HA HA...