Sepinya Musholla Kami

Thursday, February 16, 2006

Kartun opini ini iseng saya luncurkan di sebuah milis. Ternyata ada yang merespon, "Kalau benar anda yang menggambar karikatur ini, senang sekali saya. Soalnya saya ada pertanyaan: masa' iya sih umat Islam sesibuk itu berdemo-nya hingga meninggalkan mesjid (dan mesjid jadi sepi)? Saya kira tidak".

Kemudian saya menanggapi, intinya, "Gak ada niatan apa-apa boss, saya cuman terilhami guyonan salah satu temen. Katanya, tiap ada aksi anti pornografi, menentang penghinaan terhadap islam, dst, dst, jumlah peserta buanyak. Tapi pas pengajian di masjid, kok sedikit? Kalau ada iuran nge-cat musholla yang mulai kusam juga, dapetnya dikiiit. Ah sudahlah, btw, thanks buat apresiasinya".

Tak lama kemudian, ada jawaban, "Tidak ada yang bilang Anda bermuatan (sekarang setelah anda menyinggung soal muatan ini baru deh saya kepikiran). Saya cuma mengungkapkan keheranan saya melihat kartun itu. Dan mumpung ada penggambarnya langsung, makanya saya bertanya... Kesan saya, kartun itu seolah-olah mengatakan bahwa gara-gara pada demo, masjid jadi sepi. Persis dengan subjek email ini : gara-gara semua sibuk demo. Benarkah hal ini yang terjadi? Gara-gara demo? Saya meragukannya. Itu saja. Btw, guyonan teman anda itu ada benarnya. Tapi dia tak menyinggung apapun soal implikasi demo terhadap sepi-tidaknya masjid, bukan?"Hmm. Makin seru. Dalam kondisi begini, saya berpikir, apa ini masih harus saya tanggapi. Di satu sisi, saya punya keyakinan, bukankah tiap karya harus dipertanggungjawabkan? Tapi di sisi lain, bukankah kartun opini merupakan medan multi tafsir? Bukankah jadi tidak seru jika semua harus duluruskan si kartunis?

Beruntung, setelah itu ada peserta milis yang ikut nimbrung. Dan ini isi emailnya.

"Kawan-kawan, saya kurang begitu tahu tentang kriteria karikatur yang baik. Apakah yang gambarnya bagus (ini sangat subyektif) atau yang meaningnya mudah dimengerti oleh orang yang melihatnya atau yang mengapresiasinya (tergantung yang melihat atau yang mengapresiasi itu, susah juga kan?). Maka ketika saya melihat gambar mas Hendro (sepakat saya panggil begitu, atau ada panggilan lainnya, mohon dikoreksi kalau kurang sesuai), saya pake kacamata orang awam saja, sebagai penikmat kartun ala kadarnya. Sebagai gambar, saya kira gambar mas Hendro sangat bagus. Bukan karena saya tak bisa gambar seperti itu, tapi menurut penilaian standar saya gambar sudah bagus. Standar saya ini mungkin tidak sama dengan yang lain. Toni mungkin lebih tahu soal dunia kartun ini, aktivis pakarti, milis para kartunis (gila?) gitu loh...

Mengomentari pertanyaan i***, kesan saya, kartun itu seolah-olah mengatakan bahwa gara-gara pada demo, masjid jadi sepi. Persis dengan subjek email ini : gara-gara semua sibuk demo. Benarkah hal ini yang terjadi? Gara-gara demo? Saya meragukannya?

Yang ditanyakan I**** adalah meaning dibalik karikatur itu? Apakah ya demikian gara-gara orang demo masjid jadi sepi. Bukan kenapa gambarnya begini, kenapa kanvas warnanya begini, kenapa ada burung di atas pak yai (ntar kalau dia berak gimana?, he2), kenapa masjidnya digambarkan seperti itu, dll. Pelukis yang beraliran surealis atau aliran sesat lainnya tak mau diperbudak dengan warna kanvas, misalnya. Ya, pokoknya sesukanya dia. Kalau Gusmus bilang, prinsip dia melukis lailahaillallah, kalau tuhannya tak melarangnya, ya dia bablas saja. Makanya dia bisa melukis seenaknya. Mungkin kalau dia melukis kartun nabi yang pake surban bom, dan tuhannya tidak melarang, maka dia pun bablash saja (tapi tuhannya kayaknya sama deh dengan tuhanku, jadi tuhan Gusmus pun bakal melarangnya melukis seperti itu, karena bakal menghina agama yang lain, yang mungkin sebenarnya tuhannya juga sama, he2). Tapi keanehan, para seniman, termasuk yang sesat itu, justru yang menjadi daya tariknya (tapi tentu yang artistik, orang gila yang bugil tentu tidak artistik, tapi itu alami, he2).

Pada bagian lain: Saya cuma mengungkapkan keheranan saya melihat kartun itu. Dan mumpung ada penggambarnya langsung, makanya saya bertanya... Apakah penting untuk bertanya pada pengarang, pada pelukis tentang sesuatu yang dihasilkannya, apakah penting untuk tahu jawaban dibalik kartun itu? (ketika kita mengapresiasi sebuah karya seni, karya sastra) Sebagai orang yang tak begitu memahami kartun, terutama yang abstrak (saya sebel, karena harus mencari-carai tahu apa sih maksudnya, sampai akhirnya nggak ketemu juga), gambar mas Hendro ini relatif bisa dipahami. Tapi itu juga gara-gara di kasih penjelasan juga gara-gara semua sibuk demo, mungkin kalau nggak ada penjeleasan orang yang lihat punya beragam persepsi lainnya. Kalau menurut saya, jawaban yang diberikan mas Hendro cukup bijak. Ia tak menangkal pertanyaan I***, tapi justru mengatakan terima kasih atas apresisasinya. Menurut saya, lain kali Mas Hendro nggak usah ngasih caption atau keterangan pada kartun itu. Biarkan saja yang mengapresiasi sendiri yang menerka-nerka maksudnya.

Saya sepakat, karena memang tidak seharusnya pengarang menjelaskan apa yang telah disampaikannya. Biarlah karyanya itu yang berbicara. Biarlah pembaca yang menafsirkannya. Tuhan menurunkan kitab dia juga tak menjelaskan sendiri tentang ayat-ayat suci itu. Ini lho maksudnya begini. Tapi ia menurunkan nabi, sebagai pewartanya. Nabi kan manusia sama seperti kita. Dalam hal ini sama seperti pembaca pada umumnya, penikmat kartun pada umumnya. Kalau kita sudah mampu, kita boleh saja kok menafsirkan teks-teks tuhan itu seperti yang dilakukan nabi, he2. Ini seperi yang dikatakan oleh Roland Barthes dalam esainya "the death of the author". Bahwa ketika teks terlahir, ketika karya terlahir, maka pengarang sudah terpisah dari karyanya itu. Kalau anda tertarik, saya pernah menulis kecil-kecilan tentang esai barthes ini, yang saya tulis tentang kritik sastra sih, tapi kesenian termasuk lukis-melukis, sebenarnya juga termasuk di dalamnya http://hanyaudin.blogspot.com/2006/01/kematian-sang-pengarang-ala-barthes.html. Tapi, itu juga pendapat saya, yang coba mendekati persoalan ini dengan keterbatasan pemahaman saya sendiri sebagai orang awam dan maksa-maksa dan mengait-ngaitkan dengan pendapatnya Barthes (yang orangnya saya juga tak pernah ketemu).

Maka diskusi pun berakhir.

6 komentar:

udin said...

he2, posting tulisan di milis gak bilang2, sampeyan melanggar HAKI, hahaha, bcanda kok...

mas, sorry bener kalo jadi gak nyaman. tapi alasan saya posting tulisan anda di milis ini bukan krn alasan gak baik. percaya deh.

Anonymous said...

Buat temen temen kartunis muda saya ada project untuk LSM membuat cerita story board kartun untuk cerita halaman A4 20-40 halaman/ episode 1-10 Hasil Hitam Putih Cerita kehidupan anak pesantren bisa kirimkan proposal contoh sample hasil karya nya dan biaya karya di luar cetak ke email discourse.cloth@yahoo.comdi tunggutrimsAlexander Jerry

Yuanyuan Lin said...

7.05llllllyuanlongchamp pliage
cazal sunglasses
kobe bryants shoes
hermes belt for sale
nike air max 90
ray ban sunglasses
swarovski jewelry
coach outlet
michael kors factory outlet
polo ralph lauren
oakley sunglasses
herve leger dresses
ferragamo outlet
louis vuitton bags
lululemon uk
cheap nba jerseys
michael kors outlet
kobe shoes
ralph lauren
ralph lauren outlet
burberry outlet
ralph lauren outlet
links of london jewellery
coach outlet
coach handbags outlet
tory burch sandals
ray-ban sunglasses
pandora outlet
nike air force 1
coach outlet
oakley sunglasses
nfl jerseys wholesale
michael kors outlet
beats by dre
ralph lauren outlet
7.05

Unknown said...

abercrombie and fitch kids
kobe 9
michael kors handbags
hermes belt
chicago bulls jersey
michael kors uk
nike free 5
chargers jerseys
cleveland browns jerseys
versace shoes

dong dong23 said...

nike cortez
mbt shoes
ralph lauren outlet
michael kors handbags
polo ralph lauren
polo ralph lauren
true religion jeans
adidas originals
coach factory outlet
ray ban sunglasses outlet
20173.7wengdongdong