Mimpi Kota

Saturday, February 25, 2006

Surabaya makin padat,
Tak ada tempat untuk menggeliat,
Dihimpit harapan yang sekarat...


Sajak yang bernada putus asa. Tapi Usman, 34, warga Medokan Semampir, dipaksa merasakan setiap saat. Sejak rumah ilegalnya digusur beberapa bulan lalu, ia terpaksa tinggal bersama dua keluarga lain di sebuah rumah darurat. Bulan depan, istrinya hendak melahirkan. Tak terbayang, betapa padat rumah yang ia tempati nanti.

Dua hari yang lalu, kakak ipar Usman sempat datang dan menawarkan sebuah peluang. Kebetulan ada rumah kecil milik saudara di Lamongan tak lagi berpenghuni. Kabarnya, si pemilik rumah diburu polisi karena jadi bandar narkoba di Jakarta. Usman mengelus dada. Untuk kesekian kali, ia dihadapkan pada peluang untuk menempati rumah secara ilegal.

Sama-sama tak punya sertifikat atau bukti kepemilikan tanah. Usman tak habis pikir. Mengapa hidup yang sulit ini dibebani budaya legal formal yang serba ribet. Bukankah hidup ala Tarzan terasa lebih menyenangkan? Tak ada sertifikat tanah. Bila ada aksi gusur, kita masih punya ruang untuk bertahan. Tanpa ada cibiran, atau jadi tontonan.

Berbeda dengan perjuangannya dulu. Saat petugas datang di kawasan Tangkis Jagir Wonokromo, ia dan beberapa tetangga mencoba untuk terus bertahan. Sial sungguh sial. Kepada Usman dan warga lainnya, ada aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat berujar datar, "Sampeyan tidak mungkin menang. Kalau sudah bicara legalitas, Sampeyan dan teman-teman yang lain pasti kalah. Ini negara hukum".

Celaka dua belas. Usman kelimpungan mencari pegangan. Seandainya mungkin, ia ingin mencari segudang pengacara handal. Seperti yang dulu biasa memenangkan keluarga Cendana atau orang nomor satu di Partai Golkar.

"Bila mereka bisa menciptakan keajaiban di sana, mereka juga bisa menciptakan keajaiban di sini," gumam Usman. Tapi ini dunia sambal trasi. Bukan lingkaran kekuasaan yang letaknya entah dimana. Usman lagi-lagi merintih. Bingung mesti mengadu pada siapa.

Suatu ketika, ia pernah berkata pada istrinya. "Mengapa dulu kita menikah? Bukankah dengan hidup membujang, hidup jadi lebih tenang?" katanya. Tapi seperti garis nasib yang suka menggunakan logika jungkir balik, Usman dan gadis idamannya tak kuasa menahan hasrat. Sehingga sim salabim, selembar surat nikah tergeletak di atas meja akad nikah.

Usman tak bisa hidup ala Tarzan. Karena kultur masyarakat tak menghendaki keluarga Tarzan. Untuk pertama kali dalam sejarah, Usman mengiyakan hukum ini. "Seandainya tidak ada surat nikah, saya tidak bisa hidup tenang dengan istri saya," aku Usman malu-malu.

Tapi itu hanya awal. Karena setelah bumi perputar, Usman terpaksa menyajikan sesaji mimpi dihadapan Sang Istri. Berbekal rayuan gombal, ia meminta istrinya menjual kalung dan cincin untuk bekal ke Surabaya. Karena apa mau dikata, desa yang mereka tempati mulai terasa kecil untuk mewujudkan mimpi.

Usman dan keluarganya pindah ke Surabaya. Dan lima tahun sudah, ia masih mengayuh mimpi dari atas becak. Sesekali meraba Surabaya yang makin padat. Lalu tiba di rumah kecilnya yang tak ada tempat untuk menggeliat. Bila sudah begini, Usman menyadari, ia telah dihimpit harapan yang sekarat. Untuk beberapa saat, ia mulai berpikir kampung halaman
.

1 komentar:

Dinata said...

Mas, tiap orang harus punya mimpi. Seperti halnya Anda, saya, kita semua. Tanpa itu, kita tak akan beranjak untuk menggapai sesuatu. Memang sih, mimpi doang ya sia-sia. Btw, kartun-kartun Anda menyentuh dan bikin senyum. Tabik.